Kamis, 23 Mei 2019

JOGJA : 3000 KENANGAN



Kulo Nuwun,nderek langkung ! setelah 5 tahun gak nulis blog, akhirnya kali ini saya memutuskan untuk nulis blog lagi. sebelumnya buat yang baru liat blog saya, saya perkenalan diri dulu ya. nama saya Jesika saya adalah mahasiswa program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan semester 6 di kampus Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung. dan memang propsek dr prodi saya adalah mengatur pola perjalanan dr satu destinasi ke destinasi lainnya .
Kali ini saya bakal ngebahas soal petualangan saya yang sangat berkesan di kota Yogyakarta guys. Yes that special city have a lot of meaning for me. Saya sempet tinggal di Jogja selama 6 bulan karena saya harus menjalani masa Job traning sebagai seorang Tour Guide dari kampus saya. Alasan kenapa saya pilih Jogja adalah karena kota ini bener-bener menyimpan banyak banget destinasi pariwisata yang sayang banget buat di lewatin. Sesuai dengan julukannya, JOGJA ISTIMEWA, selama tinggal disana saya juga gak mau ngelewatin hal hal yang istimewa selama di Jogja. So, di blog saya kali ini, saya bakal ngebahas beberapa destinasi yang saya kunjungin . Enjoy !

jadi pada saat saya mau liburan itu, saya mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. terutama soal kendaraan yang bakal saya dan temen saya pakai selama pengen jalan. nah kami memutuskan untuk menyewa motor dari sebuah rental yang berada di dekat stasiun Yogyakarta. FYI, sya sangat merekomendasikan temen-temen buat jalan-jalan naik motor aja kalo main ke Yogyakarta karena jalanan di Jogja tuh asik banget buat touring ! dan harga sewa motornya menurut saya relatif sih ga terlalu mahal tp gak murah juga cuma sekitar 70ribu per hari udh dapet helm 2, jas ujan + motornya dianter jemput dong sama orang rentalnya jadi temen" gak usah capek-capek harus pick up motornya ke rental.

FIRST DAY : LAVA BANTAL – MUSEUM GUNUNG MERAPI

#1 Lava Bantal


SARANGHAEYO LAVA BANTAL

Yang berlokasi di bantaran Sungai Opak, Dusun Watugedhe, Desa Jogotirto, Berbah. Dulunya Lava Bantal Sleman ini terbentuk karena lahar yang keluar dari gunung api bawah laut. Lahar panas yang keluar dari gunung api bawah laut, langsung masuk ke air dingin hngga membentuk batuan cantik seperti yang ada di Lava Bantal. Konon keberadaan Lava Bantal Sleman ini memiliki kontribusi besar terhadap terbentuknya pulau Jawa . Fenomena alam seperti yang terjadi di Lava Bantal ini sangat jarang terjadi. Di pulau Jawa, fenomena alam seperti ini hanya bisa ditemukan di karangsambung (kebumen), Ciletuh (Jawa Barat), dan Yogyakarta. Fasilitas yang tersedia memang belum begitu banyak. Namun tempat parkir,warung makan dan toilet sudah tersedia di sekitar area Lava Bantal. Biasanya selain bersantai menikmati keindahan alamnya, pengunjung juga bisa menjajal sensasi bermain tubing di alirannya yang cukup deras. pada saat saya sampai disini keadaanya sebenarnya masih sepi banget dan bahkan gak dipungut biaya masuk sama sekali cuma bayar parkir sekali dan disini enak banget tempatnya untuk santai,ngerenung, makan gorengan dengan udara yang luamayan adem. setelah puas santai disini saya dan teman saya pun melanjutkan perjalanan menuju Museum Gunung Merapi yang jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan menuju Kaliurang.





#2 Museum Gunung Merapi (MGM)


Museum ini tepatnya berada di Jl. Boyong,Dusun Banteng,Hargobinangun,Pakem,Kabupaten Sleman Pakem,Yogyakarta. Di hadapan kemegahan Gunung Merapi, museum ini didirikan dengan niat untuk didekasikan sebagai perekam jejak gunung api tua ini. Memori dari tiap letusan tersimpan rapi, bahkan gemuruh suaranya pun dapat did dengar berkali kali. Di Museum ini, Gunung Merapi dikagumi sebagai pemberi pelajaran berarti.


Museum Gunung Merapi merupakan salah satu tempat yang dibangun menjadi sarana pembelajaran tentang gunung teraktifdi dunia ini. Di museum ini pengunjung dapat mempelajari banyak hal mengenai Gunung Merapi . Baik dari sisi legenda, kearifan lokalm sejarah panjang letusannya bahkan sampai melihat sisa-sisa efek dahsyat letusannya yang membuat merinding. Harga tiket masuk ke Museum ini adalah 10ribu rupiah aja kalo temen" mau sambil nonton di mini theater dlam museum ini.

SECOND DAY : SITUS WARUNG BOTO – BENTENG VREDEBURG


#1 Situs Warung boto

Add caption
moment hari ini adalah momen yg pling sya tunggu selama tinggal di Jogja, ke warung boto ! gatau kenapa saya penasaran bngt sama cerita sejarahnya yg msih nyambun sama Tamansari hari jadilah hari ini cuma ke situs warungboto doang dr mantrijeron jaraknya gak begitu jauh tp  dengan kondisi jalan yang macet belom lagi letak tempatnya bener-bener tertutup ama rumah-rumah warga jadi bisa dibilang akses kesini cukup sulit dan harus sering nanya ke orang. heheheehee dan tiket untuk masuk ke Warungboto tuh gak ada alias FREE. karena mungkin masih desttinasi baru kali ya, jd saya dan temen saya cma haru bayar parkir aja.Situs Warungboto terletak di perbatasan antara Kelurahan Rajawinangun, Kecamatan Kotagede dan Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Situs Warungboto atau Pesanggrahan Rejowinangun mulai dibangun pada masa Sultan HB I, lalu menjadi tempat peristirahatan keluarga kerajaan pada Kesultanan HB II. Pada 2017, Situs Warungboto mulai berfungsi sebagai tempat wisata layaknya Taman Sari Yogyakarta.

#2 Benteng Vredeburg
Peninggalan Meriam di Benteng Vredeburg


Diorama pelantikan Ir. Soekarno di Bangsal Siti Inggil, Keraton Yogyakarta.


Janur Kuning & segala kontroversinya


Benteng vredeburg pertama kali dibangun pada tahun 1760 atas perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permintaan pihak pemerintah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Nicholaas Harting yang menjabat sebagai Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Adapun dalih awal tujuan pembangunan benteng ini adalah untuk menjaga kemananan keratin. Akan tetapi, maksud sebenarnya dari keberadaan benteng ini adalah untuk memudahkan pengawasan pihak Belanda terhadap segala kegiatan yang dilakukan pihak keraton Yogyakarta. Pembangunan benteng pertama kali hanya mewujudkan bentuk sederhana, yaitu temboknya yang ahnya berbahankan tanah, ditunjang dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu pohon kelapa dan aren, dengan atap ilalang. Bangunan tersebut dibangun dengan bentuk bujur sangkar yang di keempat ujungnya dibangun seleka atau bastion. Oleh Sri Sultan HB IV, keempat sudut itu diberi nama Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).


Kemudian pada masa selanjutnya, gubernur Belanda yang bernama W.H. Van Ossenberg mengusulkan agar benteng ini dibangun lebih permanen dengan maksud kemanan yang lebih terjamin. Kemudian pada tahun 1767, pembangunan benteng mulai dilakukan di bawah pengawasan seorang arsitek Belanda bernama Ir. Frans Haak dan pembangunannya selesai pada tahun 1787. Setelah pembangunan selesai, benteng ini diberi nama “Rustenburg” yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867, terjadi gempa hebat di Yogyakarta dan mengakibatkan banyak bangunan yang runtuh, termasuk Rustenburg. Kemudian, segera setelahnya diadakan pembangunan kembali benteng Rustenburg ini yang kemudian namanya diganti menjadi “Vredeburg” yang berarti benteng perdamaian. Hal ini sebagai wujud simbolis manifestasi perdamaian antara pihak Belanda dan Keraton. Harga tiket masuk ke museum ini cuma 3000 rupiah aja dan itu smua gak ada apa-apanya dibanding isi museum yg udh cukup modern dan sangat modern dalam memberikan edukasi.

LAST DAY : TAMANSARI WATERCASTLE
Pasarean Ledok Sari, Tamansari


Sumur Gumuling


hari ini last day pastinya kami mengunjungi tempat yang bener bener eksotik dan keren banget,yaitu Tamansari, yang berarti taman yang indah, pada mulanya merupakan sebuah taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta. Kompleks ini dibangun secara bertahap pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan dimulai pada tahun 1758 M, ditandai oleh candra sengkala "Catur Naga Rasa Tunggal" yang menunjuk tahun 1684 Jawa. Sengkalan yang dapat diartikan sebagai "empat naga satu rasa" ini dapat ditemukan di Gapura Panggung, Bagian-bagian penting dari kompleks bangunan diselesaikan pada tahun 1765 M, ditandai candra sengkala "Lajering Sekar Sinesep Peksi" yang menunjuk tahun 1691 Jawa. Sengkalan yang berarti "kuntum bunga dihisap burung" ini dapat ditemui di Gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan.
Tamansari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan di dalamnya. Bangunan-bangunan tersebut berbentuk gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Taman ini dijuluki Water Kasteel karena kolam-kolam dan unsur air yang mengelilinginya. Disebut juga sebagai The Fragrant Garden karena pohon-pohon dan bunga-bunga yang harum ditanam di kebun-kebun sekitar bangunan. Desain Tamansari didasarkan pada gagasan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, adapun gambar teknisnya dikerjakan oleh seorang berkebangsaan Portugis yang diduga datang dari wilayah Gowa, Sulawesi. Arsitek dari Portugis ini dikenal sebagai Demang Tegis, nama yang kemungkinan besar bersumber dari kebangsaannya. Adapun pimpinan proyek pembangunan Tamansari dipegang oleh Tumenggung Mangundipuro yang kemudian digantikan oleh Pangeran Notokusumo. amansari sendiri didirikan di atas sebuah umbul atau mata air yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan. Di kompleks Tamansari terdapat dua buah danau buatan, disebut sebagai segaran. Kata segaran berasal dari kata segara yang berarti lautan. Satu berada di sisi timur dengan pulau buatan di tengahnya yang bernama Pulo Gedhong, dan satu berada di sisi barat dengan pulau buatan di tengahnya yang bernama Pulo Kenanga. Kedua segaran ini dihubungkan dengan sebuah kanal yang memotong lorong penghubung Plataran Magangan dan Plataran Kamandhungan Kidul. Kebun berisi aneka tanaman buah tumbuh rimbun mengapit kanal tersebut.
Selain difungsikan sebagai tempat rekreasi, nampaknya Tamansari juga memiliki fungsi pertahanan dan fungsi religi. Fungsi pertahanan tampak pada tembok keliling yang tebal dan tinggi, gerbang yang dilengkapi tempat penjagaan, dan bastion atau tulak bala sebagai tempat menaruh persenjataan. Selain itu terdapat beberapa urung-urung atau jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Juga posisi bangunan Pulo Kenanga yang tinggi, diduga difungsikan sebagai tempat peninjauan apabila musuh datang.
Fungsi religi ditunjukkan dari adanya bangunan Sumur Gumuling dan Pulo PanembungSumur Gumuling yang berbentuk melingkar difungsikan sebagai masjid, sedang Pulo Panembung digunakan oleh Sultan sebagai tempat untuk bermeditasi. Kedua bangunan ini berada di tengah kolam Segaran, tampak menyembul di tengah bentangan air yang luas.
Pada awalnya bangunan Pesanggrahan Tamansari menghadap ke barat, sehingga lorong bagian depan (gledegan) terletak di sebelah selatan Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari). Adapun segarannya memiliki lorong depan lurus ke utara sampai di Plengkung Jagasura (Plengkung Ngasem). Sebagai tempat wisata, kini pintu masuk ke kompleks ini berubah ke arah timur menggunakan pintu yang dahulunya merupakan pintu belakang.
Pada tahun 1867, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi peristiwa gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan di Yogyakarta. Kompleks bangunan Tamansari mengalami kerusakan yang cukup parah dan menjadi terbengkalai. Hal ini menyebabkan banyak penduduk membangun hunian di antara bekas kebun dan puing bangunan.
Renovasi secara serius dimulai semenjak 1977. Beberapa bangunan yang tertimbun dibongkar. Namun hanya sedikit sekali bagian dari bangunan Tamansari yang bisa diselamatkan.  
Gempa besar terjadi lagi di wilayah Yogyakarta pada tahun 2006. Gempa tektonik yang berkekuatan 5,9 SR ini sekali lagi membawa kerusakan pada Tamansari. Proses renovasi dan revitalisasi kembali dilakukan, beberapa bangunan diperbaiki, diperkuat, dan dilapis ulang.
Tamansari yang sempat tinggal reruntuhan kini mulai bersolek. Walau terhimpit rumah-rumah penduduk, sisa-sisanya menanti dikunjungi wisatawan yang ingin mengintip kemegahan taman raja dari masa lalu. kalo keliling Tamansari, temen-temen butuh setengah hari buat keliling krn memang luas bgt sekitar 10 hektar dan situs-situsnya masih jau lebih terawat dibanding Warungboto dan harga tiket masuknya cuma 5rb untuk WNI dan 15 ribu untuk WNA. dan jaraknya deket banget dr Kraton maupun dr Mantrijeron cuma 10 menit langsung sampai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar